Alasan DLH Surabaya Buat Taman di Jalur Hijau Gunakan Sedimen Sungai

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya telah melakukan penataan dan pemeliharaan taman di jalur hijau dengan menggunakan tanah sedimen dari normalisasi sungai atau bozem. Sebagai contoh, Jalan Mayjend Sungkono yang kini memiliki jalur hijau yang indah dan terawat.
Saat kami memantau di detikJatim, kami melihat tumpukan tanah di sepanjang jalur hijau Jalan Mayjend Sungkono. Tumpukan tersebut menutupi tumbuhan dan terlihat tidak rapi seperti limbah. Kami memperkirakan tinggi tumpukan mencapai 30 cm.
Banyak orang yang melewati Jalan Mayjend Sungkono bertanya-tanya mengapa taman hijau di jalur tersebut ditutupi oleh timbunan tanah dan limbah. Kondisi tanaman di area tersebut juga menimbulkan kekhawatiran akan kesehatannya.
“Saya penasaran, mengapa tanah digunakan seperti itu? Apakah limbahnya berbahaya bagi tanaman? Apakah ini benar-benar diperbolehkan?. Seharusnya ada pertimbangan yang lebih matang,” tanya Okta (30), salah seorang pengendara di Jalan Mayjend Sungkono.
Myrna Augusta Aditya Dewi, kepala bidang pengendalian pencemaran dan pengelolaan keanekaragaman hayati dari Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, menjelaskan tentang proses penataan jalur hijau di kota tersebut. Jalur ini dibuat dengan menggunakan tanah sedimen yang berasal dari normalisasi sungai atau pengerukan lumpur. Tanah sedimen dipilih karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang.
Menurut Myrna, proses menata dan membentuk sedimen menggunakan cangkul atau alat berat sangat penting dilakukan terlebih dahulu sebelum penanaman. Setelah itu, lapisan kompos dan tanah tanam ditambahkan sebagai dasar yang kemudian ditanami dengan media tanah yang telah disiapkan sebelumnya.
Menurut Myrna, penggunaan tanah sedimen untuk bercocok tanam tidak hanya diperbolehkan tetapi juga aman untuk kelestarian lingkungan. Selain itu, hal ini juga dapat membantu menghemat anggaran Pemerintah Kota Surabaya.
Menurutnya, kami memiliki ribuan taman dan jalur hijau yang menggunakan tanah sedimen. Dengan ini, anggaran dapat dialokasikan untuk perawatan lainnya, menghemat biaya di sana.
Tidak mudah untuk menata ulang jalur hijau di kawasan Mayjen Sungkono, dengan total jarak 1 kilometer yang harus diperbaiki. Namun, kami berkomitmen untuk menyelesaikannya sebelum akhir bulan ini.
“Meskipun belum sempurna karena masih dalam proses, kami berharap dapat menyelesaikannya sebelum bulan Februari. Ada banyak lokasi lain di wilayah barat yang juga akan direncanakan untuk direnovasi,” ujarnya.
Myrna memberi tahu masyarakat untuk tidak langsung mengambil kesimpulan bila melihat tumpukan tanah sedimen di sekitar kawasan Mayjend Sungkono. Ini adalah bagian dari proses penataan jalur hijau dan bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Meskipun ada sedikit sampah yang terbawa selama proses pemindahan tanah sedimen, kami pastikan untuk membersihkannya setelah penataan selesai dilakukan. Kami selalu berusaha untuk menjaga kebersihan lingkungan selama melakukan pekerjaan kami.
Ternyata, proses serupa telah banyak dilakukan di berbagai ruas jalan. Myrna telah menemukan banyak contoh penggunaan metode ini selain di Jalan Mayjend Sungkono.
Menurut Myrna, prosesnya sama seperti sebelumnya. Kami melakukan hal yang serupa di Jalan Diponegoro, Ngagel, dan tempat lain. Hanya saja mungkin sudah terlihat lebih baik, tapi masih dalam proses di Jalan Mayjend Sungkono.”
Sebagai edukasi kepada masyarakat, kami menggunakan air sungai untuk merawat taman dan jalur hijau. Di Surabaya, air sungai sudah memenuhi standar Kelas IV yang dapat digunakan untuk penyiraman tanaman dan mengandung unsur hara yang baik bagi pertumbuhan tanaman.
Kami berharap masyarakat tidak langsung mengambil kesimpulan jika menemukan hal-hal yang dipertanyakan, terutama terkait perawatan taman dan jalur hijau di Kota Surabaya. Harus diingat bahwa semua usaha yang kami lakukan adalah untuk menjaga kesehatan dan keindahan tanaman tersebut.